Menu Click to open Menus
Selamat datang di CU Mekar Kasih Makassar
Home » cumk-news » Menabung Dan Tabungan, Benarkah Bertolak Belakang?

Menabung Dan Tabungan, Benarkah Bertolak Belakang?

(104 Views) May 9, 2018 3:13 pm | ditulis oleh | 1 Komentar

Menabung dan tabungan adalah dua kata yang sangat familiar dengan Anda dan mungkin terdengar setiap hari. Namun sadarkah kita bahwa sekalipun kedua kata itu berasal dari induk yang sama “tabung”, tetapi dalam kehidupan sehari-hari tidak selalu diberi respon yang sama oleh orang-orang di sekitar kita. Jika Anda di tengah kerumunan orang banyak dan menjelaskan bunga tabungan, mata mereka terbuka lebar. Akan tetapi begitu Anda mengajak mereka menabung, satu demi satu mulai menjauh. Itu berarti kebanyakan orang hanya mau menikmati hasil dan enggan dalam usaha keras. Inilah fakta sekitar kita.

menabung dan tabungan

sumber gambar : hxtp://harian.analisadaily.com/taman-riang/news/celengan-ayam/308234/2017/01/29

Lalu pertanyaan selanjutnya adalah mengapa kita susah menabung? Jawaban bagi mereka yang berpikir pendek adalah “karena gaji tidak cukup”, “karena tidak uang sisa” dll. Namun nyatanya dalam keadaan itu ternyata mereka mempunyai cicilan dimana-mana. Ini berarti dalam keadaan “dipaksa dengan cicilan”, ternyata mereka mampu mencari uang lebih banyak daripada gaji untuk membayar cicilan. Nah bagaimana seandainya mereka “dipaksa” menabung sebagaimana dipaksa membayar cicilan? Bisa tetapi tidak mudah karena “menabung” berkorelasi dengan hak mereka sedangkan “cicilan” berkorelasi dengan kewajiban.

Mari kita masuk lebih dalam tentang mengapa susah menabung. Mari sama-sama kita ingat-ingat ketika masih kecil dan diberi uang saku orang tua kita. Yang paling sering mereka katakan adalah “untuk membeli makan” atau “untuk membelli kue” dll. Sangat sedikit orang tua yang berpesan “setengahnya ditabung ya”… dll. Jika demikian halnya maka sebenarnya sejak dari kecil kita diajak menghabiskan uang dan bukan untuk ditabung. Pandangan ini mungkin subyektif, namun banyak benarnya. Bahkan ada banyak orang yang uangnya telah dibelanjakan sekalipun uang itu masih dalam pikiran mereka. Hal ini bisa diperparah oleh lingkungan pergaulan kita.

Untuk bisa menabung kita harus ambil keputusan. Jika kita berani ambil resiko untuk macam-macam cicilan, tabungan juga harus diberlakukan sama. Tabungan harus dianggap sebagai kewajiban dan bukan hak. Contohnya begini: Si Amin mempunyai gagi Rp 2000.000,-/bulan dan setelah dikalkulasi ternyata Si Amin belanja bulanannya Rp 2000.000,-/bulan. Bagaimana supaya bisa menabung? Ketika baru terima gaji, Amin harus langsung menyetor ke buku tabung sebesar 10% atau Rp 200.000,- Dan Amin tekor bagaimana jalan keluarnya? Karena transaksi terjadi di awal bulan maka sebenarnya ia tidak tekor karena masih mempunya waktu 29 hari untuk mengganti yang Rp 200.000,- itu. Jika untuk cicilan macam-macam kita berani mengapa untuk tidak untuk tabungan? Cara ini yang saya maksud menempatkan “tabunga” sebagai kewajiban dan bukan sebagai “hak”.

Di CU Mekar Kasih, cara seperti itu bukan hal baru bahkan lebih jauh dan lebih lengakap. Oleh karena itu jika Anda yang membaca artikel ini belum jadi anggota CU, ayooo gabung sekarang. Jika anda sudah gabung di CU cobalah buka buku tabungan anda, sudah berapa? “TIDAK ADA ORANG YANG JATUH MELARAT KARENA MENABUNG, TETAPI BANYAK YANG JATUH MELARAT KARENA TIDAK MENABUNG” Tanam Kasih, Tuai Sejahtera.

This post was written by Qbonk
tentang

Tidak ada orang yang jatuh melarat karena menabung, tetapi banyak orang yang melarat karena tidak menabung!

Tags: ,
dalam kategori:

1 Comment for Menabung Dan Tabungan, Benarkah Bertolak Belakang?

Leave a Reply