Menu Click to open Menus
Selamat datang di CU Mekar Kasih Makassar
Home » cumk-news » Pemberdayaan Ekonomi Keluarga Katolik.

Pemberdayaan Ekonomi Keluarga Katolik.

(22 Views) May 6, 2018 5:29 am | ditulis oleh | Belum ada komentar

Pemberdayaan Ekonomi Keluarga Katolik.

A. Pendahuluan

Keprihatinanan gereja katolik dalam prespektif ekonomi umat sejak lama sudah menjadi salah satu focus perhatian dari hirarki gereja, tak terkecuali di Indonesia.  Upaya gereja katolik untuk mengatasi persoalan ekonomi umat digerakan oleh Komisi pengembangan sosial Ekonomi (PSE). Sejak Konpernas PSE di Klender tahun 2005, gerakan pemberdayaan ekonomi umat (masyarakat kecil) mendapat perhatian yang serius dari gereja ditengah persaingan ekonomi global. Atas dasar keprihatianan tersebut maka gereja menjadi penyokong  utama melalui PSE mendukung gerakan pemberdayaan ekonomi umat melalui  berbagai macam bentuk gerakan pemberdayaan.

B. Pemberdayaan Ekonomi Keluarga Katolik .

Pemberdayaan adalah Suatu proses penyadaran melalui pendidikan, pelatihan, bimbingan, dan pendampingan agar anggota mampu meningkatkan kualitas hidup secara mandiri dan berkelanjutan berdasarkan potensi yang dimiliki (Edi Suharto, 2005). Pemberdayaan ekonomi  keluarga merupakaan upaya untuk menjalankan peran sesuai dengan fungsinya dalam keluarga, dan mengembangkan potensi-potensi yang dimiliki anggota keluarga secara maksimal, sehingga terbentuk ketahanan keluarga.

Pemberdayaan ekonomi keluarga  bertujuan agar setiap keluarga bisa menyusun Rencana Keuangan Keluarga. Rencana Keuangan Keluarga  yang dibuat bukan ditujukan untuk “ bagaimana  mengatur, memutar gaji” tetapi bagaimana menciptkan peluang untuk menambah penghasilan, sehingga  dapat menata ekonomi    dengan baik.  Dalam konteks inilah Lembaga pemberdayaan ekonomi keluarga sangat diperlukan sebagai penyokong utama kebutuhan ekonomi keluarga yang sejalan dengan nilai kemanusiaan yang sejati. Dibawah ini digambarkan keluarga yang tidak mempunyai rencana dalam hidupnya, mempunyai rencana tapi tidak tertulis, dan mempunyai rencan dan tertulis.

  1. KELAUARGA YANG TAK MEMILIK RENCANA DALAM HIDUPNYA, maka cara hidupnya apa adanya  kurang gairah dan optimisme menghadapi hidup, akibatnya jangka pendek Selalu bingung menghadapi masalah, selalu kurang siap menghadapi masalah yang datang, akibatnya jangka panjang hidupnya tetap tidak berubah atau menjadi lebih miskin bahkan melarat
  2. KELUARGA MEMILIKI RENCANA TAPI TIDAK TERTULIS dalam hidup, cara hidupnya sehari hari tujuan jelas,   memiliki pedoman ,  ada pegangan, akibatnya Hidup lebih berkembang,  Hidup lebih bermakna,  Kualitas hidup meningkat, Kualitas hidupnya baik sekurang-kurangnya berkebukupan, inansialnya baik
  3. KELUARGA MEMILIKI RENCANA DAN TERTULIS,  cara hidupnya, memiliki tujuan sangat jelas,  hidup memiliki pedoman .  hidup ada pegangan kuat,  hidup dikembangkan tahap demi tahap, akibatnya hidup sangat berkembang,  sangat bermakna,  kualitas hidup meningkat, ada aksi dan refleksi dalam hidup, hidup sejahtera,  hidup makmur.  ia dapat melakukan apa yang ia inginkan,  hidup seimbang dan bahagia.

Cita-cita dari pemberdayaan ekonomi rumah tangga (PERT) adalah seperti point ke tiga diatas, dan sudah banyak dilaksanakan diberbagai tempat melalui kursus-kursus. Kursus membuat kue, krupuk, trasi abon dsb. Namun apa yang mereka ikuti belum mampu mengubah sikap dan prilakunya dalam menciptakan peluang wira usaha. Ada hal lain yang belum disampaikan yaitu keterampilan rencana dan manajemen usaha. Rencana dan manajemen serta pendampingan yang bisa membuat mereka  bisa mulai dari mana dan melangkah ke mana.

Materi yang diberikan belum mampu membuat keluarga memiliki kecakapan keuangan . Kecakapan keuangan yang bisa membuat keluarga mampu melihat peluang untuk meningkatkan wirausaha, dan berwirausaha serta mengatur keuangannya. Dalam mengatur keuangan , bukan hanya bagiamana memutar penghasilan, tetapi juga bagaimana mencari peluang usaha, bagaimana menabung, bagaiamana tabungan bekerja untuk keluarga dan akhirnya beberapa generasi yang akan mewarisi keuangan mereka.

  1. PEMBERDAYAAN GERAKAN SOSIAL EKONOMI

Pemberdayaan gerakan sosial ekonomi sangat banyak dilakukan oleh pemerintah dan Lembaga swadaya masyarakat. KSU, KSP, UB, KUD, semua gerakan ini tumbuh dan berbadan hukum  artinya sah terdaftar dan diakui oleh pemerintah. Bagaimana nasib mereka sekarang? Bertahan? Tidak, bahkan sering dilabelkan  sebagai koperasi “Merpati” dan koperasi “Pedati”.

Merpati artinya koperasi yang dibangun dan berbadan hukum ketika ada dana dari pemerintah maupun penyandang dana. Setelah berjalan satu dua bulan tutup kembali karena dana sudah habis. Pengurus dan anggota yang terdaftar adalah fiktif. Merpati suka makan jagung, dan ketiaka diberi jagung datang semua dan setelah habis jagung pergi semua.

Koperasi pedati artinya koperasi yang dibangun oleh pemilik modal, berbadan hukum pemerintah. Koperasi semacam ini adalah atas nama dan bukan rakyat yang memiliki, sehingga ketika ada untung  rakyat tidak kebagian.Koperasi pedatimembuat rakyat tidak punya masa depan karena tidak punya modal sendiri. Mereka kahirnya tetap miskin walaupun koperasinya mempunyai untung besar.

Sebagai bagian dari masyarakat, gereja juga tak tinggal diam, melalui Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) memfasilitasi berdirinya berbagai Lembaga keuangan mikro. Akan tetapi hasilnya belum maksimal. Gereja menyadari pemberdayaan sosial ekonomi yang diimpikan harus lahir dari masyarakat, oleh masyarakat dan untuk masyarakat. Tahun 2005 dalam sidang agung gereja katolik yang berlangsung di Bogor Jawa Barat (SAGKI) yang dihadiri oleh para uskup se Indonesia merekomendasikan gerakan pemberdayaan baru yaitu Credit Union yang dikembangkan di Kalimantan. CU ini merupkan revitalisasi model gerakan pemberdayaan yang sudah ada sejak tahun 1970 yang dipelopori oleh romo Karl ALbrecht,SJ.

2. PEMBERDAYAAN EKONOMI KELUARGA KATOLIK MELALUI GERAKAN PEMBERDAYAAN CREDIT UNION.

Kehadiran Credit Union sebagai Lembaga pemberdayaan, berangkat dari kesulitan keluarga katolik  dalam membiayai hidup keluarganya, seperti Pendidikan anak, kebutuhan keluarga , kesulitan permodalan untuk usaha dan lain-lain. Kesulitan-kesulitan tersebut salah satu sebabnya adalah ketidak berdayaan dalam mengelola ekonomi keluarga.  Pada bagian pendahuluan dikemukan 3 model manajemen keuangan sebuah keluarga. Jika kita ditanya manajemen model mana dari ketiga model tersebut yang anda pilih? Tentu saja kita memilih yang ketiga. Akan tetapi proses menuju pemilihan model ke 3 tersebut tidak mudah untuk dilaksanakan.

Untuk membantu kita menjadikan model ketiga sebagai habit, makan perlu dirancang pola pikir yang positif. Pola pikir positif menghasilkan prilaku yang solutif  akan tetapi sebaliknya menghasilkan prilaku masalah, yang pada akhirnya terjeumus dalam kesulitan hidup. Hidup memang pilihan mau berpikir positif maka akan tercipta rasa percaya diri seperti  saya mampu, saya bisa,  dengan bekerja keras, saya bisa mewujudkan cita-cita saya,  saya harus berusaha lebih baik lagi.  saya mampu menolong orang lain,  saya bisa membuat lapangan kerja sendiri, memiliki usaha sendiri itu keren,  memulai itu memang berat, tapi saya bisa! dan sebaliknya  sebaliknya berpikirn negative akan tercipta  mental kalah , seperti tidak mampu;  tidak bisa bekerja keras pun, kita akan tetap begini,  saya begini karena dihalangi orang lain, tidak punya apa-apa,  sehingga harus ditolong,  menunggu orang memberi pekerjaan,  lebih senang  menerima  dari pada berusaha sendiri, hidupnya tergantung pada kemurahan orang lain.  takut berusaha sendiri.

Berpikir saja tak cukup, harus ada tindakan, tindakan yang didasari pertimbangan pikiran yang matang akan menghasilkan hasil yang baik. Dan ketika tindakan yang baik itu dilakukan secara terus menerus maka akan bertranformasi menjadi kebiasaan yang baik pula, dan jika kebiasaan itu terus menerus dilakukan hingga terintegrasi dalam diri, maka akan  menjadi karakter. Karakter ini yang akan menetukan seperti apa nasib kita nantinya. Jadi berpikir, bertindak, kebiasaan, karakater adalah sebuah proses perjalanan kejiwaan manusia untuk sampai pada pilihan nasibnya seperti yang dikehendaki.

Mengapa Credit Union tata kelola modern menjadi pilihan pemberdayaan ekonomi kelurga katolik?

  1. Alasan CU dijadikan pilihan utama untuk pemberdayaan keluarga katolik:
  2. Kumpulan orang-orang yang saling percaya antara satu dengan yang lainnya.
  3. Anggota adalah pemilik dan pengguna jasa (owner and customer)
  4. CU aktif mengadakan pendidikan untuk anggota dan aktivis
  5. Anggota mudah memiliki modal dengan PMT
  6. CU mendorong perubahan pola pikir  dalam pengelolaan keuangan keluarga
  7. CU membantu anggota mencapai tujuan keuangannya
  8. CU mendorong anggota untuk mengembangkan usaha (wirausaha)
  9. CU berkembang dan maju secara mandiri dengan menggunakan modal sendiri dari anggota.
  10. CU memberi perlindungan terhadap pinjaman dan santunan terhadap tabungan. Premi dibayar oleh lembaga
  11. CU memiliki produk solidaritas untuk menggalang kepedulian satu sama lain dalam peristiwa-peristiwa khusus.
  12. Membuka lapangan kerja
  13. Menciptakan sumber pembiayaan bersama (Sharing-Economy] untuk kesejahteraan bersama
  14. Sarana masyarakat kecil untuk berhimpun membangun gerakan ekonomi dan sosial
  15. Menjadikan pelatihan kecakapan keuangan sebagai latihan wajib untuk diikuti oleh seluruh anggota, sehingga anggota mampu mengelola sumber daya financial yang dimiliki, baik untuk keperluan konsumtif maupun untuk produktif.
  16. Konsisten mendampingi para anggota yang tergabung dalam komunitas dan kelompok binaan. Setiap orang yang sudah memilih CU sebagai Lembaga pendamping hidupnya, maka akan didampingi dalam mengelola usaha yang dilakukan oleh anggota. Potensi anggota yang belum dimaksimalkan  akan diupayakan untuk dimaksimalkan

 

 

 

 

 

 

 

 

dalam kategori:

Belum ada komentar untuk Pemberdayaan Ekonomi Keluarga Katolik.

Leave a Reply